Tentang Hidupku

Adikku tersayang, waktu menunjukkan pukul lima pagi. Kamu tertidur dalam dekapan lengan kiriku, dan aku sekarang belajar seni mengetik dengan satu tangan. Ibumu, dalam keadaan jauh lebih lelah tetapi lebih bahagia sejak kakak bersamanya, kini terlelap di kamar sebelah. Suasana sangat tenang dalam tempat tinggal kita kini; hanya kakak, kamu, ibu, dan nenek yang juga terbuai dalam indahnya mimpi.

Sejak kedatanganmu, hari-hari berangsur-angsur malam dan kembali pagi lagi, dan kita mempelajari tata bahasa baru, kalimat-kalimat panjang dengan tanda seru berupa memberi makan, menggendong dan mengganti popok, dan sesekali saat-saat tenang seperti saat ini.

Bila kamu telah besar nanti, akan kami ceritakan kepadamu bahwa kamu lahir di tanah yang sangat indah dan menyimpan sejuta kenangan, bahwa ketika kami sekeluarga membawamu pulang, seluruh tetangga dekat di sekitar rumah kita berkumpul memberikan ucapan selamat datang kepadamu.

Mereka berkomentar bahwa kamu sangat cantik dan manis. Kakak tentu amat bahagia mendengarnya. Kamu sangat kami inginkan, kami tungggu-tunggu, bayangkan, dan impikan. Dan sekarang, kamu telah berada disini, tak ada impian yang dapat pantas untukmu. Di luar jendela, angin bergulir cemburu melihat keakraban kita.

Ketika kakak melihat wajahmu yang sangat polos, kakak begitu terharu. Mata itu, seolah mata kakak juga. Hidung itu, hidung milik nenek. Perangaimu serupa dengan perangai ibu. Dan rambutmu, tak jauh beda dengan rambut ayah, sedikit keriting kemerahan. Tangan itu tentu seperti tangan kakak saat masih seusiamu. Dan ah… kamu sangat mungil juga menggemaskan. Di langit dan di suatu tempat, bintang-bintang terakhir berkerlap-kerlip ke arah sisi lain dunia, setelah semalam melihat kamu dan juga kakak.

Kedatanganmu mengubah pandangan hidup kakak. Banyak hal yang selama beberapa hari terakhir terasa sedemikian penting bagi kakak, mendadak berubah warna. Seperti para sahabat yang senantiasa menemani dan juga orang-orang asing yang kakak kenal. Kakak jalani kehidupan yang kadang menggelincir ke pinggir tebing: kesakitan, penderitaan, kepedihan, dan kegelapan dalam segala bentuk dan wujudnya.

Di dunia yang sarat dengan ketidakamanan, ambisi, dan kepentingan diri, sangat mudah bagi kita untuk terseret, ikut menyabung kehidupan dan meyakini bahwa apa yang kita lakukan dan apa yang dikatakan orang tentang kita, cukup kita jadikan alasan untuk bertaruh dengan maut. Sekarang, saat kakak pandang wajahmu yang lelap, hanya beberapa inci jauhnya dari wajah kakak, saat kakak dengarkan sesekali desah dan tangisanmu, bagaimana mungkin dapat kakak bayangkan bahwa keberhasilan, penghargaan, dan pujian jauh lebih manis dari kehidupan.

Adalah suatu kenyataan bahwa hati kakak terluka –barangkali terhantui adalah kata yang paling tepat– oleh kenangan, yang mendadak sangat hidup, tentang setiap anak yang menderita yang pernah kakak jumpai dalam perjalanan hidup kakak, atau bahkan yang sedang kakak jalani. Dalam kenyataannya, pada saat ini sungguh sangat berat bagi kakak, bahkan untuk sekedar memikirkan anak-anak dilukai, dianiaya, bahkan disiksa. Dan ketika kakak memandangmu, gambaran-gambaran itu kembali membanjir. Saat angin menghembuskan debu di atas luka, saat gelap menjadi satu-satunya teman setia, saat dingin merasuk ke seluruh tubuh, saat caci maki terdengar sepanjang waktu, saat kesendirian menjadi biasa, dan saat arti sebuah kehilangan menjadi jauh lebih besar dari yang dapat dipahami sepanjang hidup kakak. Dan kamu tahu… hal itu sangat memedihkan hati kakak. Kakak takut kamu akan mengalaminya juga.

Dan seorang ibu, kamu harus mencintainya lebih dari apapun. Pernah kakak melihat televisi, di negara Rwanda, sebuah ruangan kelas hancur berantakan, ada seorang ibu dan ketiga anaknya yang masih kecil saling mendekap erat di tempat mereka dipukuli hingga mati. Anak-anak itu meninggal sambil memeluk sang ibu, naluri yang kita pelajari sejak lahir, dan akan tetap kita pelihara hingga akhir hayat.

Adikku tersayang, semua kenangan ini menjelaskan kobaran hasrat yang kakak rasakan untuk melindungimu, kelembutan serta ketegangan yang sesekali akan terjadi, saat kubayangkan sesuatu akan menimpamu. Di atas semua itu, sebuah cerita dari masa lalu yang akan kuceritakan langsung kepadamu, dari seorang kakak kepada adik perempuannya, bila kamu besar nanti. Sebuah cerita yang sangat pribadi, tetapi tetap menjadi bagian dari gambar kehidupan kita. Ia berkaitan dengan garis-garis panjang asal-usul keluarga, tentang kenyataan yang terjadi di sekeliling kita. Bagaimana kita dapat tersesat di dalamnya; bagaimana kita meraba-raba mencari peluang, yang meminta pengorbanan amat besar, yang apabila kita beruntung, kita akan dapat menemukan jalan keluar menuju cerahnya matahari.

Bermula dari dua puluh satu tahun yang lalu di sebuah kota kecil, pada suatu pagi bulan Maret, saat hujan turun. Seorang wanita bergegas ke rumah sakit untuk melahirkan. Usianya baru lepas dua puluh empat tahun. Dengan menahan rasa sakit dan penderitaan ia berjuang untuk menyelamatkan nyawa anak yang dikandungnya. Beberapa waktu sesudahnya, pada hari yang sama, ibu itu melahirkan anak perempuan, dan seperti dirimu bagiku. Si bayi adalah hal yang terindah yang pernah ia miliki. Suaminya datang malam itu dan menangis karena sukacita saat melihat anak perempuannya. Ia benar-benar bahagia. Dan itu salah satu alasan mengapa seorang anak harus mencintai ayahnya. Kendati pusing karena terlalu lama meninggalkan rumah, kehujanan, dan dalam keadaan bangkrut, dengan caranya sendiri ia bahagia, karena ia dan istrinya masih saling muda dan jatuh cinta, dan sangat mencintai anak mereka.

Tapi adikku, waktu menyimpan sejumlah kenangan buruk bagi mereka. Beberapa waktu sesudah itu, kakak sudah lupa kapan tepatnya, sang suami mulai terpengaruh oleh lingkungan dan entah mengapa, ia suka membuat rumahnya porak-poranda, memukul segala sesuatu yang ditemuinya, menceburkan semuanya ke bak mandi, mengunci segala sesuatu di dalam lemari, dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukannya. Disini, di antara kursi-kursi rusak dan kertas-kertas yang berhamburan, keluarganya tengah bersiap-siap untuk berpisah dengannya. Semalam ia jatuh ke dalam keheningan. Berputar dalam orbit liarnya sendiri, memasuki alam mimpi setahun lagi. Meminjam istilah yang ia gunakan, inilah tahun istirahat besar. Ah… selama ini kami telan kata-katamu, tetapi tidak sejak hari ini. Selama ini kita selalu memaafkanmu, tetapi saat ini aku memilih untuk lari. Aku memilih untuk meninggalkanmu. Bukan karena aku tidak mencintaimu, tetapi justru karena kami menginginkan perubahan, kami menginginkan kamu menjadi lebih baik. Sebelum berangkat, aku masuk ke kamarmu, kamar yang selalu berantakan meskipun berulang kali aku mencoba membereskannya. Disana, kulihat tanganmu terkulai di bawah sprei dan di bawah tanganmu, botol kecil minuman keras yang telah kosong. Di sampingnya ada sebuah handphone, yang entah berisi apa. Aku tidak mau memikirkannya lagi. Karena mengingatnya hanya membuatku sakit hati. Membuat kakak sakit hati.

Pernah pada ulang tahunku yang kesembilan –empat hari sesudahnya ayah menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Seingatku, saat itu ia tidak dalam keadaan mabuk, tetapi tidak banyak bicara, kecuali menanyakan ibu yang tidak mau menjawab teleponnya. Saat itu aku mulai paham, apa yang membuat cinta adalah hal yang paling menyedihkan dalam bahasa manapun. Dan kenangan yang tetap segar dalam ingatanku, adalah saat-saat dimana kita harus berpisah, ketika mobil membawaku pergi bersama ibuku untuk meninggalkan ayah, kulihat lewat jendela yang berkabut, mata ayah berubah menjadi air terjun. Sangat menyakitkan dan aku tahu bahwa mungkin akan terasa lebih menyedihkan untuknya.

Saat akhirnya keluarga itu bersama lagi, tak seorang pun dari kita mampu berkata-kata. Aku masih terlalu kecil untuk memahami semua yang kuketahui, bahwa kita berpisah, lalu bersama lagi dengan perbedaan yang kurang lebih sama. Dalam keadaan yang entah sadar atau tidak, selalu kusesali. Walau di lubuk hatiku yang terdalam, aku tak mau mengingatnya lagi.

Yang kurasakan hanya sakit. Yang kurasakan hanya kepenatan dan kebosanan. Terlalu banyak yang harus dikorbankan. Dan terlalu sulit untuk bisa dipikirkan sendiri. Aku mencintai ayah, bahkan mungkin lebih dari yang bisa dipahami semua orang. Aku membelanya di saat semua orang memakinya. Aku selalu menunggunya dengan setia, bahkan saat ia tak berniat untuk pulang ke rumah. Aku selalu memaafkannya untuk semua yang pernah ia lakukan untukku, entah ia sadari atau tidak. Mungkin terdengar gila, tapi aku tahu bahwa itu bukan ayahku. Jiwanya telah terperangkap dalam raga yang lain, raga yang tertidur. Hingga saat kusadari bahwa apa yang kupikirkan ternyata salah besar. Dia bukan hanya melupakan tanggungjawab moril sebagai seorang ayah, tetapi juga telah mengkhianatiku, mengkhianati ibuku, dan mengkhianati keluarga ini. Ayah telah mengoyak-ngoyak hatiku dengan pengkhianatan terbesar yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku dan memburai seluruh harapanku menjadi serpihan-serpihan kecil. Sadarkah kau ayah bahwa kehadiran perempuan itu telah merenggutmu dari aku, dari orang yang selalu mengingatmu di setiap hirupan nafasnya? Sadarkah kau ayah, bahwa kau telah berlaku tidak adil dengan membiarkan keluarga ini terlantar sekian lama, kedinginan dan kelaparan? Tahukah kau ayah, bahwa aku hanya bisa menangis semalaman dan meratapi; mengapa aku tidak bisa seperti anak-anak orang lain yang hidup dalam keluarga normal? Aku bukan manusia suci yang selalu bisa mentolerir semua kesalahanmu. Aku pun bukan benda mati yang bisa diperlakukan semaumu. Dan yang lebih penting lagi, aku ini adalah anakmu. Di dalam tubuhku mengalir darahmu. Dan di dalam hatiku hanya tertulis namamu. Masih ingatkah kau ayah, bahwa aku ini anakmu? Bahwa yang kau pukul itu bukan batu tapi anakmu. Batu mungkin tidak akan mengeluhkan apapun yang kau lakukan tapi aku… Aku hanya seorang anak, yang sangat bisa merasakan pukulan demi pukulanmu menghujani tubuhku. Dan kau tak pernah tahu kan bagaimana rasanya? Sakit sekali rasanya, ayah! Sakit sekali…

Keadaan ini, keadaan yang ayah buat, semua perlakuan ayah, dan juga penghinaan-penghinaan yang telah atau sedang ayah berikan, telah menusuk tepat di jantung hatiku karena tahukah engkau ayah… aku, bahkan akan membayarnya, membayar ini semua dengan nyawaku. Dan tahukah engkau ayah… bahwa aku menunggu hampir seluruh hidupku untuk melihatmu bergandengan tangan lagi dengan kami dan bersama- sama membangun masa depan yang lebih baik. Semua harapan itu harus aku lepaskan, secepat aku memecahkan vas bunga kesayangan ibu, semudah aku melihat acara televisi sampai larut malam, dan segampang aku mengisi hari demi hari dengan kesendirian. Walau sebenarnya… tanpa harapan itu, aku akan mati… aku akan mati dengan hati yang berdarah-darah….

Saat aku telah dan mampu belajar banyak serta memiliki pandangan yang berbeda tentang dunia, engkau malah memilih menjadi orang yang terasing dari keluarga. Seorang diri dalam sebuah ruangan yang tak tahu dimana, hidup dan mati untuk sebotol alkohol, dan mewarnai hari demi hari dengan pengkhianatan. Tanpa menyadari, ada banyak kata-kata yang seharusnya kita ingin ucapkan tetapi tetap tak terucapkan

Aku sekarang sudah tumbuh dewasa dan pergi jauh, dan kau semakin melayang mendekati kegelapan. Aku ingin sekali mengingatkanmu, tapi pada akhirnya aku tidak pernah lagi menulis surat, meneleponmu, atau bahkan sekedar mengirimimu sms. Aku menyerah. Kau pernah memberiku jaket dan beberapa hadiah, tapi aku… aku tidak pernah mengirimkan apa-apa kepadamu. Bahkan sehelai kartu sekalipun. Aku sangat menyesal dan aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa, atau harus meminta maaf dengan cara bagaimana. Ayah, seharusnya aku sadar, mungkin hidupku tidak akan lama dan ketakutan yang berlebihan harus kusingkirkan. Bagaimanapun engkau adalah seorang ayah yang harus aku hormati. Tapi nalarku tak bisa, Ayah. Aku tak bisa…

Ayah, aku mencintaimu… tapi bahkan aku nyaris mati karena perasaan itu. Aku ingin sekali berbincang denganmu, seperti yang dulu sering kita lakukan. Tapi kini, aku kehilangan kata-kata untuk sekedar berbincang denganmu. Aku takut bahwa sebuah pukulan mungkin akan membuat keadaanku semakin buruk. Aku takut bahwa apa yang belum dan akan aku lakukan mungkin terlihat tak pantas buatmu. Dan aku takut, harapanku yang besar akan kesadaranmu bukannya menyenangkanku tetapi akan lebih menyakiti diri, pikiran, dan juga perasaanku.

Adikku, apapun yang terjadi, kakak tahu bahwa sesungguhnya ayah tidak bermaksud melakukan atau ingin melakukannya; tetapi demikianlah kenyataannya. Ketika kamu besar adikku, kamu akan belajar tentang betapa rumitnya kehidupan ini di kemudian hari, betapa kita dapat tersesat, dan betapa seseorang dapat terluka, baik di dalam hati maupun di luarnya.

Dan adikku, saat kamu menangis keras, saat kakak benar-benar berada di dekatmu dan saat kakak sedang bercanda denganmu, kakak ingat tentang ayahmu. Barangkali terdengar bodoh, tetapi saat itu kakak berharap, mudah-mudahan di saat kehidupan dan kematian kakak sangat dekat, ayahmu dapat mendengar bahwa kakak bangga, kakak bangga dengan semua yang ayahmu miliki. Kecerdasan, keuletan, dan kerja keras yang ia ajarkan kepada kakak. Kakak bangga akan semua yang ia berikan, terutama kamu. Seorang bocah yang dengan polosnya menatap kakak dan memberikan senyum yang paling tulus yang tidak tertukar dengan apapun yang bisa kakak berikan untukmu. Karena jika ayah bisa mendengar, tentu ia akan mengenali suara jauh dari keluarga, suara penuh harapan dan awal baru yang kamu bawa ke dunia, bersama keadaan tak berdosa dan kesegaranmu.

Adikku, kakak sangat mencintaimu dan berharap kamu pun begitu. Kakak mencintai keluarga ini dan berdoa semoga perasaanmu sama. Kamulah hal yang paling berharga yang kakak miliki sekarang. Kamulah satu-satunya alasan kenapa kakak bisa bertahan, sejauh ini. Kamulah yang terbaik. Dan kakak berharap banyak padamu, untuk menyikapi kehidupan yang penuh arti ini dengan lebih bijaksana.

Kakak ingin bila kamu besar nanti, kamu akan tetap mencintai ayah dan akan menjalani kehidupan seperti yang biasa kakak lihat di mimpi-mimpi kakak; sepasang kakek nenek –yang tinggal di sebuah desa yang damai bersama keluarganya yang lain– saling bergandengan tangan, diiringi cinta anak-anak dan cucu-cucunya, memetik bunga, menatap kupu-kupu yang beterbangan, melihat daun-daun yang berguguran tertiup angin, bercanda, tersenyum, dan bersama-sama menghadapi kematian. Kakak berharap nantinya kamu pun begitu… dan kakak yakin kamu pasti bisa mewujudkan mimpi kakak itu… dengan atau tanpa kakak. Karena hanya kamu adikku… hanya kamu yang bisa.

THE END

Created by: punk_choy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s