SAAT SANG ANAK PERGI KULIAH

SAAT SANG ANAK PERGI KULIAH

Bagaimana kita tahu buah itu ranum? Saat buah itu meninggalkan kumpulannya.

Kusangka aku sedang mengantarnya ke Taman Kanak-Kanak, lalu mengapa aku berada di universitas ini? Bukankah ini selimut yang kubuatkan untuk waktu istirahatnya? Mengapa aku meletakkannya pada tempat tidur yang asing ini? Apa yang sedang kami lakukan disini? Dia begitu bergembira dan aku –aku berpura-pura bahwa batu yang bersemayam di hatiku itu tak ada. Kemana perginya 19 tahun itu?

Tak ada lagi yang harus dilakukan. Tempat tidur telah dirapikan, kopor telah dikeluarkan isinya, dia pun sedang memasang poster dan foto. Apakah ini berarti aku harus berlalu? Aku menciumnya, mengucapkan selamat tinggal, tersenyum, dan mengatakan agar dia bersenang-senang –tapi tak boleh sampai melupakan kuliahnya. Lalu aku melangkah keluar pintu, kembali bersiap-siap menuju rumah, membuka kunci mobil, menyelip ke belakang kemudi, dan menangis.

Perjalanan pulang itu panjang dan sepi, seakan semuanya telah pergi selamanya. Kamarnya begitu hambar dan sunyi dan ya Tuhan, begitu kosong! Aku hampir tak percaya; karpetnya pun dapat terlihat! Ranjangnya rapi dan bersih, bahkan tak ada gundukan kaos kaki yang hilang. Tirai tergantung lurus di jendela dan lemari pakaian hampir kosong. Tapi… apa itu? Di kolong tempat tidur masih ada sampah!

Oh, jadi di situ rupanya cangkir dan gelas kristal yang hilang –semuanya ada di meja rias, dikelilingi foto-foto bekas pacarnya. Dan itu… blus kesukaannya masih tergantung di pojok ruangan. Kelupaan. Apakah ia akan melupakan ajaranku semudah ia melupakan blus itu?

Aku mendengar suara gemuruh bis sekolah yang lewat di depan rumah, dan hatiku melonjak karena untuk sesaat kusangka dia sudah pulang. Lalu, dengan helaan napas aku ingat: bis sekolah itu tak lagi berhenti disini. Sang supir mengitari belokan, mengganti gigi, dan terus melaju. Aku menatap jalan depan yang kosong. Tak ada lagi gadis sekolahan, rumah dipenuhi teman-teman sekolahnya, suasana berantakan, kamar mandi acak-acakan. Hanya rumah yang bersih, rapi, membosankan, dan sunyi.

Pagi ini aku masih seorang ibu, yang telah kuperankan selama 19 tahun. Lalu, secepat itu, peran itu berakhir. Lalu, sekarang aku mau apa? Siapa yang akan kurawat? Memang aku ingin dia mandiri, dan aku tahu pekerjaanku sebagai ibu akan berakhir, tapi mengapa ada yang bilang bahwa slah satu sudut hatiku akan terkoyak ketika saatnya tiba?

Bukankah baru kemarin ia meringkuk di pangkuanku, ikal rambut bayinya bersinar tertimpa matahari? Lalu ia mengitari belokan dan bencana terbesarnya adalah lutut yang lecet dan gigi yang tanggal. Sekaranmg ia berlari di jalan yang sama sekali baru dan bencana yang mengancam lebih besar –misalnya, patahnya hati atau impian. Dan aku tak akan lagi bisa menyembuhkan rasa sakitnya dengan kecupan; hansaplast dan kue coklat tak lagi memadai. Aku mendambakan untuk menyelamatkannya dari air mata dan rasa sakit –tapi aku tak bisa. Dia harus mempelajarinya sendiri, meneteskan air matanya sendiri, mengatasi patah hatinya sendiri.

Kusangka aku telah siap menghadapi hal ini, telah merencanakan semuanya. Aku memulai karier baru, menggali proyek lama, dan memenuhi jadwalku. Aku tak mau duduk santai dan bermalas-malasan dalam sindrom sarang kosong (semua anak pergi meninggalkan rumah). Aku tak mau begitu; aku cukup pandai. Malah, aku adalah wanita baru, pandai, efisien, dan percaya diri. Lalu mengapa aku memeluk boneka rombeng milik anakku dan menangis?

Lalu aku ingat. Beberapa musim yang lalu, di suatu tempat, akulah gadis muda yang pergi kuliah. Berdiri di ambang impian, udara cerah, dan berkilauan dengan kegembiraan masa depan baru. Ayahkulah yang berdiri melambaikan tangan, seluruh tubuhnya membungkuk sedih. Oh, ayahku, kini aku mengerti!

Suatu fase kehidupan sudah berlalu, anak yang kau rawat tak lagi memerlukanmu, hanya tempat kosong dalam hatimu dan hari-harimu.

Kukira aku akan pulih dan mengejar impian baru, menikmati waktu yang tak terbatas, menyukai tak perlu membereskan rumah yang acak-acakan dan menggagumi kamar mandi yang bersih. Tapi sekarang ini, untuk beberapa lama pada sore musim penghujan yang dingin dan menggigil ini, kurasa aku akan duduk saja disini, di kamar seorang gadis kecil, memeluk boneka tua yang sangat disayang, meneteskan air mataku, dan mengenang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s