REMASLAH TANGANKU DAN AKAN KUKATAKAN AKU SAYANG KAMU

REMASLAH TANGANKU DAN AKAN KUKATAKAN AKU SAYANG KAMU

Ingatkah ketika masih kecil kamu jatuh dan terluka? Ingatkah apa yang dilakukan ibumu untuk meringankan rasa sakit? Ibuku selalu menggendongku, membawaku ke tempat tidurnya, serta mendudukkkan diriku. Lalu ia pun duduk di samping tempat tidurku, meraih tanganku dan berkata, “Kalau sakit, remas saja tangan Ibu. Nanti akan kukatakan aku sayang kamu.” Sering aku meremas tangannya, dan setiap kali, tak pernah luput, aku mendengar kata-kata, “Nak, Ibu sayang kamu!”

Kadang-kadang aku pura-pura sakit hanya supaya aku memperoleh ritual itu darinya. Waktu aku lebih besar, ritual itu berubah, tapi ia selalu menemukan cara untuk meringankan rasa sakit dan menimbulkan rasa senang yang kurasakan dalam berbagai bagian hidupku. Pada hari-hari sulit yang kualami, ia akan menawarkan sebatang coklat almond kesukaannya saat aku pulang. Semasa usiaku 20-an, ibu sering meneleponku untuk menawarkan piknik dan makan siang di taman untuk sekedar merayakan hari cerah dan hangat saat itu. Kartu ucapan terima kasih yang ditulisnya sendiri tiba di kotak pos setiap kali ia dan ayahku berkunjung ke tempatku, mengingatkanku betapa istimewanya aku baginya.

Tapi ritual yang paling berkesan adalah genggamannya pada tanganku saat aku masih kecil dan berkata, “Kalau sakit, remaslah tangan Ibu, dan akan kukatakan aku sayang kamu.”

Suatu pagi, saat aku sedang menjalani hari-hariku yang sibuk, ayahku meneleponku. Tidak biasanya ia melakukannya. Ia selalu berwibawa dan jernih saat memberikan nasehat, tapi aku mendengar rasa bingung dan panik dalam suaranya. “Nak, Ibumu sakit dan aku tak tahu harus berbuat apa. Cepatlah datang kemari!”

Perjalanan mobil enam jam ke rumah orangtuaku diiringi dengan rasa takut, bertanya-tanya apa yang terjadi pada ibuku. Saat aku tiba, Ayah sedang mondar-mandir di dapur sementara ibu berbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dan tangannya berada di atas perut. Aku memanggilnya, mencoba menjaga agar suaraku setenang mungkin. “Bu, aku sudah datang.”

“Kamukah itu, Nak?”

“Iya, Bu.”

“Kaukah itu?”

“Iya, Bu. Ini aku.”

Aku tak siap untuk pertanyaan berikutnya, dan saat aku mendengarnya, aku membeku, tak tahu harus berkata apa.

“Nak, apakah ibu akan mati?”

Air mata menggenang dalam diriku saat aku memandang ibuku terbaring disitu tak berdaya.

Pikiranku melayang, sampai pertanyaan ini terlintas di benakku; jika keadaannya terbalik, apa yang akan dilakukan Ibu padaku?

Aku berdiam sejenak yang terasa seperti jutaan tahun, menunggu kata-kata itu tiba di bibirku. “Bu, aku tak tahu apakah Ibu akan mati, tapi kalau itu memang perlu, tak apa-apa. Aku menyayangimu.”

Ia berseru, “Nak, rasanya sakit sekali!”

Lagi-lagi, aku bingung harus berkata apa. Aku duduk di samping tempat tidurnya, meraih tangannya dan mendengar diriku berkata, “Bu, kalau Ibu sakit, remaslah tanganku, nanti akan kukatakan, aku sayang padamu.”

Ia meremas tanganku.

“Bu, aku sayang Ibu.”

Banyak remasan tangan dan kata “Aku sayang padamu” yang terlontar antara aku dan ibuku selama beberapa tahun berikutnya, sampai saat ia meninggal dunia. Kita tidak pernah tahu kapan ajal tiba, tapi aku tahu bahwa pada saat itu, bersama siapa pun, aku akan menawarkan ritual kasih ibuku yang manis setiap kali seseorang membutuhkannya. “Kalau sakit, remaslah tanganku, dan akan kukatakan, aku sayang kamu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s