PINTU YANG TAK TERKUNCI

PINTU YANG TAK TERKUNCI

Waktu aku masih kecil

Dan hanya berjarak satu sentuhan

Aku melindungimu dengan selimut

Melawan udara malam dingin

Tapi sekarang kau sudah besar

Dan diluar jangkauan

Aku melipat tanganku

Dan melindungimu dengan doa

Di sebuah tempat, seorang wanita muda, seperti kebanyakan remaja masa kini, merasa bosan akan rumah dan larangan orang tuanya. Anak itu menolak gaya hidup keluarganya yang religius dan berkata, “Aku tak mau Tuhan kalian. Aku tak tahan lagi. Aku mau pergi.”

Ia pergi, memutuskan untuk menaklukkan dunia. Namun, tak lama kemudian, ia berkecil hati dan tak mampu mendapatkan pekerjaan, jadi ia turun ke jalan dan menjual tubuhnya sebagai pelacur. Tahun-tahun berlalu, ayahnya meninggal, ibunya bertambah tua, dan si anak semakin terjerumus dalam gaya hidupnya.

Anak dan ibu itu tak pernah berhubungan selama itu. Si ibu, ketika mendengar dimana anaknya berada, pergi ke bagian kumuh kota itu untuk mencari anaknya. Ia berhenti di setiap rumah penampungan dengan permintaan sederhana, “Bolehkah saya memasang foto ini?” Foto itu adalah foto si ibu yang tersenyum dan beruban dengan pesan tulisan tangan di bawahnya, “Ibu masih sayang padamu… pulanglah!”

Beberapa bulan berlalu dan tak terjadi apa-apa. Lalu suatu hari si anak masuk ke tempat penampungan untuk makan. Ia duduk melamun mendengarkan lagu yang diputar di radio, sementara matanya melihat sebuah foto dan berpikir, mungkinkah itu ibuku?

Ia tak sabar menunggu berakhirnya siaran radio. Ia berdiri dan pergi melihatnya. Memang itulah ibunya, dan di bawahnya ada perkataan, “Ibu masih sayang padamu… pulanglah!” Sambil berdiri di depan foto itu, ia menangis. Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

Waktu itu sudah malam, tapi ia begitu tersentuh oleh pesan itu sehingga ia mulai berjalan pulang. Saat ia tiba, hari sudah pagi. Ia tak berani dan berjalan dengan takut-takut, tak begitu tahu apa yang dilakukannya. Saat ia mengetuk, pintunya terbuka sendiri. Pikirnya, pastu\ilah ada seseorang yang menyelundup ke dalam rumah. Sambil mencemaskan keselamatan ibunya, wanita muda itu berlari ke kamar ibunya dan mendapatinya masih tidur. Ia mengguncang tubuh ibunya, membangunkannya, dan berkata, “Ini aku! Ini aku! Aku pulang!”

Sang ibu hampir tak mempercayai penglihatannya. Ia menghapus air matanya dan mereka berpelukan. Si anak berkata, “Aku cemas sakali! Pintunya terbuka dan kusangka ada pencuri masuk rumah ini.”

Sang ibu menyahut dengan lembut, “Tidak, Sayang. Semenjak kau pergi, pintu itu tak pernah terkunci.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s