MAKAN MALAM KELUARGA

MAKAN MALAM KELUARGA

Aku memandang remaja kembarku dan rasanya ingin menangis. Yang lelaki mengenakan celana baggy, rambut jingga, dan anting. Yang perempuan mengenakan anting hidung, tatto palsu, dan kuku 7,5 cm. Waktu itu kami sedang dalam perjalanan mengunjungi sanak kerabat … untuk makan malam… untuk merayakan Hari Raya.

Apa yang akan dikatakan keluargaku nanti? Aku dapat membayangkan bisik-bisik paman dan bibi mereka, decakan lidah, dan gelengan kepala. Aku dapat memulai pertengkaran disini, di pintu, sebelum kami pergi. Aku dapat mengancam, mencemooh, dan menghukum. Tapi kemudian apa? Aku tahu aku tak ingin bertengkar atau membentak pada hari ini.

Semuanya akan lebih mudah seandainya mereka masih berusia sembilan tahun. “Kembali ke kamar kalian dan kenakan pakaian yang pantas!” Tapi mereka sudah tujuh belas tahun, dan apa yang mereka lakukan bagi mereka sudah pantas.

Jadi, kami pun pergi. Aku sudah siap untuk menerima tatapan, tapi ternyata tak ada. Aku siap untuk mendengar bisikan, tapi ternyata juga tak ada. Anak-anakku duduk (tampak sedikit janggal) di meja yang dikelilingi 10 orang. Mereka duduk di samping sepupu kecil mereka yang berwajah rapi dan bersih. Mereka ikut berpartisipasi dalam obrolan keluarga dan sesekali mengeluarkan lelucon yang menyegarkan suasana. Mereka membantu menbereskan piring di sela-sela makan, tertawa, bercanda, serta menuangkan kopi untuk para tamu yang datang silih berganti.

Aku sadar saat aku memandang wajah mereka yang cantik dan tampan bahwa apa yang dipikirkan orang lain tak jadi masalah. Karena menurutku, mereka hebat sekali. Mereka melanjutkan tradisi kami dengan penuh semangat dan kasih. Dan semuanya datang secara alamiah dari hati mereka.

Sambil duduk di hadapan mereka di meja, aku memperhatikan mereka. Aku tahu bahwa rambut, pakaian longgar, dan tatto palsu hanyalah pernyataan mengenai siapa diri mereka saat itu. Hal itu akan berubah seiring dengan waktu. Tapi, partisipasi mereka dalam hari raya kali ini, dan kedekatan keluarga kami akan selalu berada di dalam diri mereka. Saat mereka tumbuh lebih dewasa, aku tahu hal yang ini tak akan berubah.

Tak lama lagi perayaan ini akan berakhir. Musik yang diputar lantang, teman-teman, dan rumah yang berantakan akan kembali menjadi bagian hidup kami. Aku tak ingin malam istimewa ini berakhir. Saat-saat berharga seperti inilah yang menyelinap mengejutkan kita sebagai kaum ibu. Kurasa anak-anak kita tak ada bedanya. Berapa pun usia mereka, kadang-kadang hanya kilasan senyuman yang lucu atau tindakan kecillah yang akan membangkitkan perasaan kasih yang lengkap dan sempurna.

Aku memandang kedua anakku dan merasakan kedamaian serta kebahagiaan mereka. Pada saat itu, rasanya aku ingin melompat dan memeluk mereka. Aku ingin mengatakan pada mereka betapa hebatnya mereka, menurutku. Tapi aku tidak melakukannya. Pada saat itu, aku ingin menghampiri dan mencubit pipi mereka seperti yang kulakukan saat mereka berusia sembilan tahun dan mengatakan bahwa mereka sungguh cantik dan tampan. Tapi aku tidak melakukannya. Aku malah duduk di tempatku menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja makan, dan mengobrol dengan orang lain.

Nanti, pada perjalanan pulang, aku akan mengatakannya. Hanya bertiga, aku akan mengatakan betapa kehadiran mereka di meja itu berarti bagiku. Aku akan mengatakan pada mereka betapa baiknya mereka dan betapa bangganya aku menjadi ibu mereka. Nanti, saat kami sendirian, aku akan mengatakan betapa aku mencintai mereka. Dan aku pun melakukannya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s