LEGA

LEGA

Hal lain bisa merubah kita, tapi kita bermula dan berakhir dengan keluarga.

Aku tidak yakin kapan tepatnya titik balik itu terjadi. Tapi aku tahu hal itu terjadi setelah aku bertengkar dengan ibuku. Musim kemarau itu kami sering bertengkar, karena sikap pemberontakku. Kau tahu bagaimana situasinya, kau berbohong sekali, lalu semua kebohongan itu mulai menumpuk. Dan tidak ada yang terjadi secara merata –selalu sekaligus. Musim kemarau itu hubunganku dengan ibuku merenggang, dan dua sahabatku, yang kubutuhkan sebagai tempat mengadu, marah kepadaku. Disitulah aku mendapatkan pelajajaran kedua (yang pertama adalah jangan berbohong) dan yang kedua adalah jangan pernah menyemnbunyikan perasaanmu. Itulah yang dilakukan kedua temanku, dan ketika aku mengetahuinya, semua sudah terlambat.

Yang jelas, rumahku menjadi medan pertempuran. Aku tidur sampai tiba waktu berangkat sekolah dan kemudian tidur setelah pulang sekolah. Diantaranya, aku menangis dan menangisi diri sendiri, yah, kalau tidak sedang bertengkar dengan ibu. Hari itu semuanya berubah.

Ibu berteriak mengungkapkan kekesalannya karena aku tidak lagi menjadi bagian keluarga. Tidak ada yang suka berada di dekatku karena sikapku selalu bermusuhan. Aku membalas berteriak, seperti yang biasa dilakukan remaja delapan belas tahun. Tapi ibu telah menghukumku tidak boleh keluar rumah (yah, aku sudah mendapat hukuman itu) atau mengambil handphoneku; ia menugasiku menulis essai. Tugasku adalah minta maaf atas kelakuanku.

Aku menangis marah di kamarku, berteriak-teriak mempertanyakan apa yang bisa kutulis. Tapi aku pun mulai menulis. Dan permintaan maaf itu pun berubah menjadi penjelasan. Kutuangkan semua rasa sakit dan penderitaanku, yang selama ini kusembunyikan di balik amarahku, yang kutangisi setiap malam. Aku tidak tahu caranya kembali menjadi diriku yang dulu, dan aku membenci diriku yang sekarang. Aku merasa sangat kehilangan arah. Dan, terutama, aku merasa seolah semua orang yang selama ini kuandalkan telah meninggalkanku sendiri. Seorang diri.

Kutinggalkan surat itu di atas ranjangnya lalu pergi tidur, kecapaian menangis. Aku membungkus diri dengan selimut flanelku yang hangat untuk meredakan rasa dingin. Meskipun saat itu malam musim kemarau yang lembab dan hangat, entah kenapa aku merasa sangat gemetar. Keesokan paginya, aku bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat sekolah, supaya tidak ada yang sudah bangun. Aku mengendap-endap ke kamar mandi dan melihat sebuah kartu, bertuliskan namaku dalam tulisan tangan ibu, ditempelkan di cermin. Aku membukanya. Ibu mengatakan bahwa ia mengerti. Ia mengerti bahwa aku kehilangan arah dan takut. Dan berjanji akan menolongku.

Aku masuk dalam ruang pancuran air panas, diam-diam terisak. Air mataku yang asin bercampur dengan air pancuran yang menerpa wajahku. Tapi kali ini, yang mengucur adalah air mata lega, bukan putus asa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s