Kebun Nenek

Kebun Nenek

Setiap tahun, Nenekku menanam bunga mawar dalam kebun bunganya dan menanti keindahan musim seminya dengan sikap tak sabar seperti anak kecil. Di bawah penjagaannya yang penuh kasih, bunga-bunga itu mekar, dengan setia, dan ia tak pernah kecewa. Tapi katanya bungan sungguhan yang menghiasi hidupnya adalah cucunya.

Aku, setidaknya, tak ingin ikut bermain.

Aku dikirim untuk tinggal bersama nenekku saat aku masih bayi sampai berusia 20 tahunan. Orang tuaku hidup dalam kemandirian, entah benar-benar peduli atau tidak terhadapku dan aku, adalah gadis yang selalu bermasalah, penuh dengan kebijakan semu dan amarah karena kurasa mereka tidak mampu menangani atau mengerti diriku. Sebagai remaja yang tak bahagia dan tak tahu sopan santun, aku sudah hampir dikeluarkan dari sekolah.

Nenek adalah wanita yang mungil. Kalah tinggi dari anaknya sendiri, dan para cucu yang belum dewasa, dan ia memiliki kecantikan yang kuno dan klasik. Rambutnya berwarna gelap dan selalu ditata dengan anggun. Mata coklat kehitamannya sangat cerah dan berkilau penuh hasrat. Ia memiliki kesetiaan luar biasa pada keluarga, dan ia mencintai sebesar dan setulus anak kecil. Tapi, aku tetap berpendapat bahwa nenekku akan lebih mudah diabaikan daripada orangtuaku.

Aku pindah ke rumah pertanian yang sederhana dengan membisu. Merajuk dengan menundukkan kepala dan mata menatap ke bawah seperti hewan piaharaan yang tersiksa. Aku tak berharap apa pun dari orang lain. Dan sebaliknya, malah membentengi diriku dengan sikap apatis. Aku menolak jiwa lain masuk ke dalam kehidupan pribadiku karena rasa takutku yang terbesar adalah seseorang menemukan kerapuhan diriku yang selama ini kurahasiakan. Aku yakin, hidup adalah perjuangan pahit yang lebih baik diperjuangkan sendiri. Aku tidak berkeinginan membagi kesedihanku dengan orang lain. Dan aku sama sekali tidak memiliki hobi melihat orang lain mengasihaniku. Mungkin sejauh ini tidak akan ada yang benar-benar mengerti seluruh diriku. Mereka hanya dapat membaca sepotong dari berpuluh-puluh atau kalau boleh dikatakan beratus-ratus serpihan puzzle yang menyusun hatiku.

Aku tak mengharapkan apapun dari nenekku selain dibiarkan sendiri dan berencana untuk menerima tak kurang dari itu. Namun, ternyata ia tak mau menyerah dengan begitu mudah.

Masa sekolah dimulai dan aku kadang-kadang menghadiri kelas, melewatkan sisa hariku dengan tetap memakai baby doll-ku, menatap televisi di kamarku dengan perasaan bosan. Tak mengacuhkan tanda-tanda yang kuberikan, Nenek membuka pintu kamarku setiap pagi seperti sinar matahari yang tak disambut.

“Selamat pagi!” ujarnya dan dengan riang membuka tirai penutup jendela kamarku. Aku menarik selimut menutupi kepalaku dan tak mengacuhkannya.

Jika aku keluar dari kamarku, aku dihadang oleh rangkaian pertanyaan yang berniat baik darinya mengenai kesehatan, pikiran, dan pandanganku tentang dunia pada umumnya. Aku menjawab pendek-pendek dengan gumaman, tapi entah bagaimana ia tak berkecil hati. Malah, ia menganggap dengusankuyang tak bermakna itu membuatnya kagum; ia mendengarkan dengan serius dan tampak tertarik seakan kami sedang mengobrol dengan asyik, seakan aku baru mengungkapkan suatu rahasia yang amat sangat penting. Sesekali, saat aku menawarkan jawaban lebih dari satu kata, ia bertepuk tangan dengan gembira dan tersenyum lebar, seakan-akan aku mempersembahkan kado istimewa.

Mula-mula aku bertanya-tanya, apakah dia tidak mengerti. Namun, meskipun ia bukan wanita berpendidikan, kurasakan ia memiliki kepandaian akal sehat sederhana yang datang dari kecerdasan alami. Ia menikah pada usia muda, mempelajari apa yang diketahuinya tentang kehidupan dengan membesarkan tiga orang anak saat masa ekonomi yang sulit, menjual segala sesuatu yang memungkinkan untuk menambah penghasilan dan menyambung hidup.

Jadi, aku mestinya tidak kaget saat ia bersikeras agar aku belajar membuat roti. Aku selalu gagal menguleni adonan sehingga Nenek akan mengambil alih saat proses itu. Namun, ia tak membolehkan aku meninggalkan dapur sampai adonan sudah dimasukkan ke dalam oven. Pada wak tu itulah, saat perhatiannya terfokus bukan padaku dan aku menatap kebun bunga di luar jendela dapurnya, saat itu aku mulai berbicara padanya. Ia mendengarkan dengan penuh semangat sampai kadang-kadang aku merasa malu.

Perlahan-lahan, saat aku menyadari bahwa minat nenekku tidak memudar oleh sikap diriku, berangsur-angsur aku makin terbuka padanya, tapi tetap tidak untuk masalah pribadiku. Aku mulai menanti obrolan kami diam-diam, tapi penuh gelora.

Saat akhirnya kata-kata menguasaiku, semuanya tak mau berhenti. Aku mulai masuk sekolah dengan teratur, dan bergegas pulang setiap sore untuk mendapatinya duduk di kursi yang biasa, tersenyum dan menunggu mendengar cerita terinci setiap menit sepanjang hari-hari yang kujalani.

Nenek sangat berbeda dengan semua orang yang kukenal. Nenek tidak pernah menyakitiku, tidak pernah mengacuhkanku, dan yang terpenting, dia menyayangiku sepenuh hati, bagaimana pun kacaunya keadaanku. Nenek adalah orang yang dengan setia membimbingku namun, tak terlalu membahas kegagalanku. Dia selalu siap menghiburku bila aku terlihat agak murung walau aku terang-terangan tidak terlalu mempedulikannya.

Suatu hari, waktu aku duduk di kelas 2 SMU, aku bergegas melalui pintu, duduk di samping bangku nenek dan mengumumkan, “Aku ditunjuk menjadi editor koran sekolah!”

Ia terenyak dan menutup mulutnya dengankedua tangannya. Dengan penuh semangat, aku memasukkan kedua tanganku ke dalam tangannya lalu meremasnya dengan erat. Aku memandang ke dalam matanya yang berbinar-binar ceria. Ia berkata, “Nenek sangat menyukaimu dan Nenek sangat bangga denganmu!”

Kata-katanya serasa meninjuku dengan begitu kuat sehingga aku tak dapat berkomentar. Kata-kata itu melebihi seribu kata “Aku sayang padamu.” Aku tahu cintanya tak bersyarat, tapi persahabatan dan kebanggaannya adalah hal yang harus diraih. Untuk menerima keduanya dari wanita yang luar biasa ini membuatku mulai bertanya-tanya apakah memang ada sesuatu yang dapat disukai dan dibanggakankan dari diriku. Ia membangkitkan suatu hasrat dalam diriku untuk menemukan potensi diriku, dan alasan untuk membiarkan orang lain mengetahui kerapuhanku. Bukan untuk mengasihaniku, melainkan untuk turut membantuku memperbaikinya, dan melewati semua saat-saat sulit yang aku alami.

Pada hari itu, aku memutuskan mencoba hidup seperti nenek –dengan penuh energi dan intensitas. Mendadak aku dipenuhi gairah untuk menjelajahi dunia, pikiranku, dan hati orang lain, untuk mencintai sebebas dan tanpa pamrih seperti dirinya. Dan aku menyadari bahwa aku mencintainya –bukan karena dia nenekku, tapi karena dia adalah individu yang indah dan menarik, yang mengajariku apa yang ia ketahui tentang menyayangi diri sendiri dan orang lain dengan sebuah…. keikhlasan.

Nenekku meninggal setelah dua tahun aku meninggalkan bangku SMU. Ia meninggal dengan dikelilingi oleh anak dan cucunya, yang bergandengan tangan dan mengenang suatu hidup yang berisi cinta dan kebahagiaan. Sebelum ia meninggalkan dunia ini, kami membungkuk di atas tempat tidur, dengan wajah dan mata lembab, lalu menciumnya dengan lembut. Saat giliranku tiba, aku menciumnya dengan lembut di pipi, meraih tangannya dan berbisik pelan, “Nek, Aku sangat suka padamu, aku bangga padamu, dan yang terpenting, Aku tidak akan melupakan semua yang Nenek ajarkan padaku.”

Sekarang, aku bersiap lulus dari universitas, aku sering memikirkan kata-kata nenekku, dan berharap ia masih bangga akan diriku. Aku terpesona oleh kebaikan dan kesabarannya yang membantuku keluar dari masa yang sulit, walau tak sepenuhnya itu berhasil, memasuki masa dewasa yang lebih stabil. Aku membayangkannya pada saat rintik hujan turun, saat bunga-bunganya mekar, saat kami tumbuh dengan semangat yang hanya dapat ditandingi dengan semangatnya. Dan aku terus berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa dia tak akan kecewa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s