ISILAH BUKU KENANGANKU

ISILAH BUKU KENANGANKU

Yang tersulit adalah belajar menjadi mata air alami kasih sayang, dan bukan menjadi sumberair buatan; untuk menunjukkan bahwa kita mencintai mereka. Bukan ketika kita ingin melakukannya, tapi ketika mereka ingin mencintai kita.

Ketika duduk di kelas, aku memusatkan perhatian pada tengkuk Kiki. Pikiran jahat memenuhi benakku; diam-diam aku sedang menunggu kepalanya meledak. Tapi hal itu tidak terjadi, dan aku dipaksa melihat mantan sahabatku tertawa serta mengobrol dengan semua orang dalam kelas, sedangkan aku terang-terangan diacuhkannya.

Setelah aku dan Kiki tidak menjadi sahabat lagi, dan jam pelajaran ketiga benar-benar menyiksaku. Ketika masih berusaha pulih dari sakit hati yang kuanggap terparah di dunia, aku dipaksa menyaksikan kelakuan mantan sahabatku yang secara berlebihan menggoda teman-temanku yang lain, seolah ia sedang membuktikan kepadaku bahwa sakit hatinya sudah sembuh. Selama pelajaran, Kiki dengan suara keras mengoceh tentang akhir pekannya, pesta yang terakhir dihadirinya, kegiatannya yang sangat mengasyikkan, dan motor barunya.

Mungkin Kiki sedang mencoba balas dendam padaku karena telah memutuskan hubungan kami sebagai sahabat yang telah saling berbagi selama beberapa tahun belakangan. Mungkin ia berpikir jika ia terlihat bahagia, aku akan lebih terluka daripada dirinya.

Pada akhir hubungan persahabatan kami, aku membiarkan ia menangis di bahuku tetapi menguatkan hati ketika ia memohon supaya aku jangan pergi. Tentu saja, di sekolah ia menutupi sakit hatinya dengan sangat baik, seolah perpisahan kami yang penuh isak tangis tak pernah terjadi.

Setelah perpisahan kami, Kiki mulai bersahabat dengan temanku yang lain. Temanku itu pergi bersama-sama Kiki ke pesta sekolah dan mengumumkannya tepat di sebelahku saat kelas matematika. Aku pun punya seorang teman yang akan kuajak pada pesta itu, tapi perbuatannya tetap menyakitkanku. Sakit hatiku mendidih dan berubah menjadi kemarahan. Rasanya Kiki seperti mencoba membuatku kesal, mencoba memanas-manasiku dengan kebahagiaannya. Setiap kali melihat mereka aku ingin menjerit. Sakit yang kurasakan seolah mengoyakku menjadi dua, atau setidaknya memaksaku ingin mengoyak Kiki menjadi dua.

Liburan sekolah sudah dekat, dan dengan tak sabar aku menunggu datangnya semester baru, penyelamatku. Tak ada lagi pelajaran aljabar dan perasaan yang menyiksaku setiap hari.

Suatu hari pada jam pelajaran ketiga yang kutakuti, Kiki mencondongkan tubuh ke arahku, dan mengejutkanku dengan memintaku mengisi buku kenangannya. Aku hanya terduduk diam selama satu menit sebelum pulih dari rasa kagetku dan berkata, “Ya!”

Dalam hati aku berpikir, inilah kesempatanku. Aku bisa benar-benar membuatnya tahu rasa! Aku bisa mengatakan padanya bahwa aku tahu apa yang sedang dilakukannya, bahwa ia sedang mencoba menyakitiku, dan bahwa hal itu tidak adil. Aku bisa mengatakan kepadanya bahwa aku mengerti maksud kepura-puraannya, bahwa ia dan aku sama-sama tahu bahwa itulah yang dilakukannya, berpura-pura. Tapi lalu aku sadar, apa gunanya aku melakukan hal itu? Apakah mengecilkan dirinya akan membuat aku merasa lebih baik, atau apakah akan memperdalam rasa sakit yang sama-sama perlu kami lupakan?

Bukannya menuliskan semua penderitaan yang kualami, aku malah membuat daftar semua saat menyenangkan yang telah kami lalui bersama. Aku menulis tentang tempat pertama dimana kami saling berbagi, saat kita saling berbelanja dan bercanda, hadiah-hadiah yang diberikannya padaku, pelajaran yang kudapat –yang ia ajarkan kepadaku- dan ungkapan, “Aku adalah sahabatmu” yang pertama kali saling kita ucapkan. Tulisanku menghabiskan satu halaman, dan dengan cepat menjadi dua, sampai tanganku capai menulis. Masih ada sejuta lebih kenangan indah yang memenuhi sudut-sudut benakku, dan sepanjang hari itu, aku mengingat lebih banyak lagi. Hal itu membuatku menyadari semua yang kupelajari darinya dan betapa hebat pengalaman yang kami alami bersama. Aku mengakhiri tulisanku dengan mengatakan bahwa aku tidak sakit hati, dan aku berharap perasaannya sama.

Mungkin apa yang kutulis di buku kenangannya membuatku terlihat lemah, mungkin ia menganggap aku menyedihkan karena masih mempertahankan kenangan persahabatan kami. Tapi dengan menuliskan semua hal itu, membantu aku. Hal itu membantu aku menyembuhkan luka yang masih belum kering di sudut hatiku yang paling dalam. Aku merasa bebas setelah melepaskan semua dendamku, dan aku akhirnya merasa terbebas dari kemarahanku.

Aku menyadari bahwa Kiki telah memberiku satu pelajaran terakhir: memaafkan. Suatu hari nanti, ketika sudah berusia lima puluh tahun dan punya anak, ia mungkin secara tak sengaja akan menemukan buku kenangan itu, dan anak-anaknya akan bertanya siapa aku. Kuharap ia bisa mengingat ke belakang dan mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang benar-benar menyayanginya, mencintainya sebagai seorang sahabat sejati, dan yang terpenting, bahwa aku adalah seseorang yang mengajarinya tentang indahnya hidup bila kita dapat memaafkan orang lain tak peduli seberapa besar kesalahan yang telah diperbuatnya, dan tak perduli seberapa besar perbuatannya menghancurkan hati kita.

Sahabat akan tetap menjadi sahabat, sesuatu hal mungkin dapat memutuskan tali persahabatan kita, tapi sebenarnya –di lubuk hati kita yang paling dalam, kita tidak pernah terpisahkan, karena sahabat sejati… untuk selamanya.

Just for my trully friend,

Kiki

How are you today?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s