DIBACA JIKA SEDANG SENDIRIAN

DIBACA JIKA SEDANG SENDIRIAN

Saat itu aku berusia 19 tahun. Keluargaku pindah beberapa tahun sebelumnya. Aku menjadi remaja yang nakal habis-habisan. Aku marah dan memberontak, tak mengindahkan kata-kata orangtuaku, terutama kalau perkataan itu menyangkut diriku. Seperti kebanyakan remaja lain, aku berusaha melepaskan diri dari apa pun yang tidak sejalan dengan gambaranku tentang dunia. Sebagai anak “pandai tanpa butuh bimbingan”, aku menolak semua kasih yang ditawarkan. Malah, aku marah kalau kata ‘kasih’ disebutkan.

Suatu malam, seusai suatu hari yang sulit, aku menyerbu ke dalam kamarku, menutup pintu, dan naik ke tempat tidur. Saat aku berbaring dalam kesendirian tempat tidurku, tanganku terselip ke bawah bantal. Disitu terdapat sebuah amplop. Aku mengambilnya dan pada amplop itu tersebut tertulis, “Dibaca, jika sedang sendirian.”

Karena aku sedang sendirian, tak akan ada yang tahu aku membacanya atau tidak, jadi aku membukanya. Di situ tertulis,

Nak, Ibu tahu sekarang ini kehidupanmu sukar

Ibu tahu kau frustasi dan Ibu juga tahu bahwa Kami, orangtuamu tidak bisa membantumu dengan baik

Ibu juga tahu bahwa Ibu sayang padamu dengan sepenuh hati dan apa pun yang kau lakukan atau katakan tak akan bisa mengubah itu

Ibu selalu ada untukmu kalau kau ingin mengobrol dan kalau tidak juga tidak apa-apa

Pokoknya asal kau tahu, kemana pun kau pergi dan apa pun yang kau lakukan dalam hidupmu, Ibu akan selalu sayang padamu dan merasa bangga bahwa kau adalah anakku

Ibu selalu ada untukmu dan selalu menyayangimu

Itu tak akan pernah berubah

Penuh sayang,

Ibu

Surat ini adalah surat yang mengawali beberapa surat “Dibaca kalau sedang sendirian.” Surat ini tak pernah disebut-sebut hingga aku dewasa.

Kini, aku berkeliling daerah untuk menolong sesama. Aku mengajar dalam sebuah seminar saat di penghujung hari seorang pengunjung wanita menghampiriku dan menceritakan kesulitan yang dialaminya dengan anaknya. Kami berjalan ke pantai dan aku menceritakan kasih ibuku yang tak pernah mati dan “Dibaca jika sedang sendirian.” Beberapa minggu kemudian aku mendapatkan kartu pos yang mengatakan bahwa ia telah menulis surat pertamanya dan meninggalkannya untuk anaknya.

Malam itu, saat aku naik ke tempat tidur, aku menyelipkan tanganku ke bawah bantal dan mengingat rasa lega yang kurasakan setiap kali aku menerima surat itu. Dalam masa remajaku yang bergolak, surat-surat itu adalah peneguhan yang tenteram bahwa aku dapat dicintai meskipun aku anak yang sulit. Sebelum aku tertidur, aku bersyukur pada Tuhan bahwa ibuku mengetahui apa yang dibutuhkan olehku, seorang remaja yang sedang marah.

Hari ini, setiap kali lautan kehidupan dilanda badai, aku tahu bahwa di bawah bantalku terdapat peneguhan yang tenteram, bahwa kasih, kasih yang tetap, abadi, dan tanpa pamrih, dapat mengubah hidup

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s