BUKU HARIAN SAYANG

BUKU HARIAN SAYANG

Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai, dicintai karena diri kita sendiri atau, tepatnya, dicintai seperti apa pun diri kita.

(Victor Hugo)

Buku harian sayang,

Tes, tes, tes. Selama tiga jam aku menunggu di stasiun kereta api ini dan selama tiga jam, aku mendengar tetes air jatuh dari sebuah pancuran air minum tua ke atas lantai kayu yang dingin. Kayunya sudah tua dan lapuk, tapi entah bagaimana ada tetesan air yang bisa menembusnya. Lucu, betapa sesuatu….

Tiba-tiba terdengar lengking peluit kereta api yang sedang meninggalkan stasiun, mengganggu pikiranku dan melemparnya kembali ke dunia nyata.

Aku melihat jam tanganku dan sadar aku sudah ketinggalan kereta, dan kereta berikutnya baru akan meninggalkan kota ini empat jam lagi. Apa yang sekarang harus kulakukan? Sudah tengah malam lewat seperempat, dan aku kedinginan serta kelaparan. Aku berjanji akan bertemu dengan petugas penerima murid baru di perguruan tinggi pada pukul delapan pagi, dan kalu dilihat gejalanya, aku takkan bisa datang tepat waktu. Cara yang luar biasa untuk memberikan kesan pertama, heh?

Aku mulai merasakan air mata membakar mataku, dan tak lama kemudian sudah menari-nari di atas pipiku. Aku di sini sendirian. Di sekitarku tak ada wajah yang kukenal untuk menghiburku. Ibuku seharusnya ada disini bersamaku, untuk mengucapkan perpisahan yang terakhir kalinya sebelum aku memasuki dunia orang dewasa. Tapi dengan banyaknya pertengkaran serta janji yang tak terpenuhi di antara kami, aku tak berharap dia akan ikut datang ke sini bersamaku. Mungkin tadi malam seharusnya aku tidak meninggalkan rumah tanpa minta maaf. Maaf atas begitu banyak perselisihan yang menyakitkan. Tapi kami sudah melewati titik dimana “maaf” bisa mengobati luka dan membuatnya baik lagi. Tapi sekarang aku bersedia mengorbankan apa saja untuk keberadaannya di sini bersamaku. Mungkin dia benar. Mungkin aku bukan orang dewasa yang tau semuanya seperti yang kupikir. Mungkin aku masih seorang bocah ketakutan yang membutuhkan perlindungan serta kasih sayang seorang ibu.

Sekarang sudah hampir pukul empat subuh, dan matahari pagi akan segera menyinsing. Aku sempat minum kopi dan ganti pakaian selama menunggu. Kuperhitungkan kalau naik bus pukul 7 di Jember, aku masih bisa memenuhi janjiku pada seseorang…

Sampai lain kali,

Aku

Setelah menyimpan jurnalku, aku memasukkan tangan ke dalam tas untuk mengambil karcis, tapi yang terpegang malah selembar amplop putih polos. Aku tidak perlu membaca nama di bagian depan untuk mengetahui siapa pemberinya. Ia ingin kami mempunyai hubungan yang lebih baik dan melupakan masa lalu. Mulai dari awal. Ibuku bahkan menyatakan maaf atas semua pertengkaran yang telah kami alami selama bertahun-tahun. Pesan itu juga berkata ia akan menungguku di stasiun kereta api di Malang dan kami akan bersama-sama berjalan memasuki perguruan tinggi itu. Dalam amplop terselip sebuah tiket kelas eksekutif dan catatan tambahan yang memberitahuku supaya melihat ke dasar tas. Disana aku akan menemukan uang untuk membeli sedikit makanan dan sehelai sweater untuk menahan hawa dingin di stasiun. Ketika berjalan menuju stasiun kereta api, aku melewati pancuran air minum yang rusak, yang kini tak lagi meneteskan air. Dan aku menyadari, untuk pertama kalinya dalam hidupku, bahwa aku akan menemui seorang wanita dengan jati dirinya yang sejati. Ibuku….

<!– –>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s