ASMA DI PUNCAK LAWU

ASMA DI PUNCAK LAWU

Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada diantara keduanya, dan semua yang ada di bawah tanah” (QS. Thoha: 6)

Ingin rasanya aku menuruni bukit ini. Tapi kakiku tak mau diajak kompak. Dia memaksaku berdiri. Bergetar. Memandangi sesuatu yang belum pernah kulihat. Ajaib. Fenomena alam yang indah, tetapi membingungkan.

Dag-dig-dug jantungku terus melaju. Makin lama makin kencang. Kulit pun memberikan fungsi ekskresinya, keringat.

Tangan kiriku masih berpegangan pada pohon jati yang tak begitu tinggi dariku. Batangnya tak begitu besar. Takut, bingung, kagum, bercampur aduk menjadi satu. Dahiku terus berkerut. Tangan kananku menepuk pipi, tidak mimpi.

Kuhampiri anak sungai di depanku. Hanya dua sampai tiga langkah jaraknya dari tubuhku. Airnya jernih, tadinya mengalir dengan derasnya. Menabrak bebatuan dengan lincah. Kuurungkan niat untuk membasuh kaki, tangan, dan muka disini. Kutemui diriku sebagai pengecut. Takut pada air. Ya, kelakuannya yang kutakuti.

Belum selesai kupandangi anak sungai itu, kurasakan angin sejuk merasuk sampai ke sumsum tulang. Aku semakin takut. Aku sendiri. Sendiri. Bahkan pohon jati kecil yang kupegang tadi bergoyang dengan centilnya.

Aku tak habis pikir, tak pernah aku sebingung ini. Kukerahkan pikiranku untuk menjawabnya, tapi tak bisa. Gelar sarjana sainsku tak ada artinya disini. Yang kudapat adalah… hari semakin gelap. Sore telah berlalu. Sebenarnya apa ambisiku? Apa yang kucari hingga aku bertekad untuk terus naik? Terus. Tak mau mendengar pendapat siapapun, termasuk Simon. Dimana mereka sekarang? Apa yang mereka lakukan sekarang? Apakah mereka pergi ke Magetan kota, lalu langsung ke Jakarta? Ah… tidak, kami datang bertiga. Mereka adalah temanku yang sudah cukup lama. Tak mungkin.

Sekarang, entah aku bisa kembali atau tidak. Izin dari perusahaan tinggal dua hari lagi. Aku harus pulang. Jika tidak, bisa diinterogasi aku nanti.

Mataku tajam melihat sekeliling. Terlebih lagi ketika aku melihat anak sungai yang ada di depanku. Ya! Hal itu terulang lagi. Aku berlari sekencang-kencangnya. Berusaha menuruni puncak ini, menelusuri bukit, berteman gelap. Berpuluh, beratus, beribu, atau entah berapa pohon seolah menertawaiku. Semuanya diam. Burung pun tak ada yang berkicau. Oh… Tuhanku, apa ini?

Entah kemana celana, helm, jaket planel, tas punggung, dan topi berburu kubawa berlari. Yang aku inginkan hanya meninggalkan tempat ini. Lama-lama tenagaku lemah. Aku mulai berjalan pelan. Lomba adu cepat masuk keluar oksigen dan karbondioksida pun digelar. Dan kutemui diriku sedang di tengah kegelapan. Dikelilingi pohon atau entah apa, yang terlihat hanya batangnya, samar-samar. Aku tersesat. Lemas aku dengan vonis ini. Bagaimana mungkin? Di gunung ini, Lawu tak ramah. Atau… ini daerah hutan terlarang? Tidak, mana boleh percaya akan hal-hal seperti itu. Ingin menangis, tapi aku laki-laki. Sudah beberapa hari ini aku tak ke gereja. Dan mati? Hanya tinggal menunggu waktu. Di tempat seluas ini, akankah ada seseorang yang kutemui.

Kuhentikan langkahku, aku berlutut pada tanah yang gembur. Lututku dingin. Air mata putus asa pun menangis. Seorang asisten manager pemastian mutu pun menangis. “Tuhan, mohon berlah aku petunjuk-Mu.” kalimat itu yang terus aku ucap.

Langit hitam. Beberapa bintang menghiasi. Bulan pun hampir penuh. Entah benda langit itu kasihan atau menertawakanku melihat aku menangis. Biasanya aku sering membuat stafku, khususnya wanita, menangis karena kegalakanku.

Kilauan cahaya menggagetkanku. Menyudahi doaku. Cahaya bundar sebesar uang seratus rupiah terus dan terus menghampiriku, diikuti suara meraung dari bawah cahaya itu. Tubuhnya hampir tak terlihat. Makin lama ia mendekat. Mulutnya ternganga. Tetesan air liurnya pun semakin jelas terlihat. Aku berdiri dan mundur beberapa langkah. Belum sempat aku berbalik, binatang itu menyerangku. Aku berteriak. Tapi serangannya semakin ganas. Tubuhku merasa terkoyak. Tak ada yang tertarik pada jeritanku. Kurasakan perih. Perih dan sepertinya…. Apakah aku akan mati dengan cara seperti ini? Begitu hinakah aku?

“Tidaaakkk!”

Entah aku berada dimana… pikiranku kosong. Bahkan aku tak berusaha untuk lari. Tak tahu sedang apa dan diapakan. Semuanya terasa gelap.

Alunan suara itu terdengar begitu indah. Lembut, menghanyutkan perasaan seseorang. Yang membacanya pasti telah terbiasa. Aku tahu itu Al-Qur’an, kitab suci orang muslim.

Kubuka mataku. Langit-langit anyaman bambu samar terlihat. Rupanya aku sedang terbaring. Masih hidup. Kualihkan perhatianku ke seluruh ruangan ini. Sebuah meja kayu diletakkan di pojok dinding trikplek, beserta kursi dan lampu petromak. Aku berusaha untuk bangun. Dadaku perih. Ada luka bekas cakaran. Begitu juga lengan kiriku. Kuraba wajah. Itdak rusak. Seluruh tubuhku masih utuh. Aku masih duduk di dipan kayu ketika seorang laki-laki setengah baya membuka kelambu. Dia tersenyum dan menghampiriku. Baju koko dan sarungnya tampak rapi. Ditambah peci dan jenggot panjangnya. Setiap orang yang melihatnya pasti akan berkesimpulan bahwa dia adalah seorang muslim taat.

“Sampun tangi?” tanyanya yang tak kumengerti.

“Bapak yang menolong saya?” tanyaku.

Laki-laki itu tersenyum.

“Terima kasih, Pak. Bagaimana saya bisa disini?”

“Jangan langsung berterima kasih pada saya.”

Kagok aku mendengar jawabannya. Sekalipun aku tak mengerti, aku tak berani menanyakannya.

“Lalu… binatang itu, Pak?”

“Binatang apa? E, dari luka-luka Anda, sepertinya Anda baru saja diserang binatang buas.”

“Ya, tadi saya diserang binatang. Macan… ya… seekor macan. Saya menemukan Anda terkulai tak sadar di belakang rumah. Tadi malam, sewaktu saya akan mengambil air wudhu.”

“Ya Tuhan…” ucapku lirih.”

“Oh ya, nama Anda siapa?” tanyanya.

“Hans Julio.”

Laki-laki itu duduk di kursi. Memompa lampu petromak agar lampunya menyala lebih terang.

“Saya Amiri Nawawi.”

Kali ini aku lebih bingung lagi. Mana mungkin? Lalu macan itu?

“Sekarang jam berapa, Pak?”

“Sekitar jam tiga malam, silahkan Anda istirahat.”

“Eee, boleh saya mengganggu Bapak?” tanyaku sambil hampir beranjak dari dipan kayu.

“Anda tidak mengganggu saya.”jawabnya sambil menutup kembali kelambu yang hampir dibuka seluruhnya.

“Apakah Lawu itu angker?”

“Anda percaya dengan hal-hal seperti itu?” dia balik bertanya.

“Entahlah, sukar sekali bisa dipercaya. Tadi sore, sebenarnya saya sudah sampai di puncaknya, saya tidak tahu apa yang terjadi. Air sungai yang tadinya mengalir, tiba-tiba diam. Diam, sama sekali tak bergerak. Tak ada angin atau kicauan burung. Semuanya diam. Sesaat kemudian, aliran sungai itu mengalir kembali.angin pun terasa dingin, burung-burung berkicau. Tapi beberapa saat kemudian, semuanya kembali diam. Secara serempak.”

“Kemudian?” tanyanya.

“Saya lari. Berlari entah kemana. Saya tersesat, lalu bertemu macan. Dan… saya temui diri saya disini setelah diserang binatang itu.”

“Anda sampai di puncak gunung ini sore?”

“Ya, hampir maghrib.”

“Atau sudah maghrib?”

“Ya… ya… sudah maghrib, pas. Pas waktu maghrib.”

“Berarti sudah adzan?”

“Ya, memang. Terdengar suaranya.”

“Subhanallah,” ucap lelaki itu.

Aku yang tak mengerti artinya, semakin tak mengerti dengan jawabannya.

“Bahkan alam pun tahu,” tambahnya.

“Maksud Bapak?”

“Ya, alam semesta…. mereka menghormati suara adzan. Allah, pemilik seruan yang sempurna. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya. Semuanya patuh tunduk. Tak ada yang melawan, kecuali manusia yang tidak punya akal.”

“Tak punya akal, apa akalnya tak terpakai, sampai-sampai sama saja dengan nol?”

“Akalnya tidak digunakan untuk mengakui kebesaran-Nya, keesaan-Nya, sifat-sifat-Nya.”

*****

Sebulan sejak kutinggalkan Lawu, kini aku bersimpuh disini. Kurang lebih sudah dua minggu aku telah bangun dari tidur panjangku. Tidur selama bertahun-tahun dengan ajaran yang… aku tak mau menyebutnya. Jelas dan pasti bahwa itu salah.

Simon dan semuanya kutinggalkan. Pergi bersama Lawu. Kulangkahkan kakiku ke pintu masjid. Terlihat Simon menghampiriku. “Hans… e… Iqbal, ayahmu bunuh diri!”

Oleh : Manik Nur Haq

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s