ANAKKU RYAN

ANAKKU RYAN

Sebagai ibu, tugasku adalah mengurus apa yang mungkin dan mempercayai Tuhan untuk apa yang tak mungkin.

Sudah tujuh tahun sejak anakku, Ryan meninggal. Ia mengidap hemofilia, dan ia tertular AIDS dari produk darah yang diminum oleh pengidap hemofilia untuk membantu darahnya menggumpal dengan baik. Ini terjadi sebelum banyak orang mengetahui tentang AIDS. Dia baru 13 tahun saat didiagnosis. Para dokter memberitahu kami bahwa Ryan beruntung andai ia dapat hidup selama enam bulan lagi.

Ryan hidup selama enam tahun lagi dan merupakan anak yang berani menghadapi penyakit AIDS dan membantu mendidik teman-temannya. Aku tahu, Ryan akan senang bahwa kehidupannya, dan kematiannya, telah memberikan inspirasi bagi banyak orang.

Pada mulanya, waktu kami mengetahui bahwa Ryan mengidap penyakit yang mematikan, aku banar-benar dan sungguh-sungguh hancur. Aku adalah ibu yang membesarkan dua orang anak sendirian, dua anak yang berarti segalanya bagiku. Dan anak sulungku akan mati. Rasanya aku tak mampu melanjutkan hidup. Selain mimpi buruk itu, ditambah lagi kami harus berurusan dengan ketidaktahuan, ketakutan, dan kebencian yang melingkupi AIDS pada saat itu. Ryan ingin kembali ke sekolah, tapi sekolah tak mau menerimanya. Para orangtua takut anaknya akan tertular AIDS akibat berada seruangan dengannya. Kami berjuang agar ia dapat bersekolah dan kami menang, tapi permusuhan dan tekanan dari lingkungan terlalu berat buat keluarga kami. Kami memutuskan untuk pindah ke kota lain.

Di sekolah Ryan yang baru, ceritanya sama sekali berbeda. Murid-murid di sana mau merepotkan diri untuk menyambutnya. Mereka mengorganisasi kelas pendidikan AIDS dan mengatur konsultasi untuk menaklukkan rasa takut yang tersisa dalam diri tiap murid. Mendidik masyarakat tentang penyakit ini menjadi kehidupan Ryan, menjadi kariernya. Ryan menjadi juru bicara untuk AIDS, muncul di televisi, majalah, dan koran di seluruh dunia. Ini membantu memberi makna untuk apa yang terjadi pada keluarga kami dan meringankan sebagian rasa sakit kami.

Kami belajar hidup bersama AIDS. Mimpi buruk penyakit ini adalah penyakit ini membuat orang terinfeksi berat. Kupikir setiap batuk, setiap demam akan menjadi yang terakhir. Tentang AIDS, orang tak bisa tahu apakah suatu gejala itu serius atau ringan. Si pasien sakit lalu sembuh, lalu tak lama kemudian ia sakit lagi.

Suasana hati Ryan hampir selalu bagus. Bahkan saat harus ke rumah sakit pun, ia mencoba tersenyum padaku, ia mencoba tersenyum padaku saat aku memasuki pintu. Namun, jika kadang-kadang ia tak bisa melakukan sesuatu, seperti pergi ke suatu tempat, atau berkenalan dengan orang yang menyenangkan, atau pergi berjalan-jalan serta berlibur ke tempat yang menarik karena ia terlalu sakit, atau terlalu sibuk mengerjakan tugas akademiknya, ia akan cemberut dan muram. Lalu aku akan memarahinya. Ia pun merasa menyesal dan langsung minta maaf. Mungkin menulis pesan atau mengirim kartu.

Hanya orang sakit yang juga orang sucilah yang tak pernah merasa mudah tersinggung. Dan kalau Anda orang yang merawatnya, Anda tak boleh mengambil hati setiap ledakan amarahnya, karena sesungguhnyalah penyakitnya yang sedang menyebar dan obatnyalah yang membuatnya marah, dan bukan hati yang murni dan penyayang dalam dirinya.

Suatu hari Ryan menggenggam tanganku dan mengayunnya.

“Ryan, kalau kamu baik seperti ini, biasanya ada maunya!”

“Aku tak mau apa-apa. Masak seorang anak tak boleh menggandeng tangan ibunya?”

“Ayo… katakan saja pada Ibu…”

“Tidak, benar kok, Bu. Aku ingin mengucapkan terima kasih sama Ibu untuk segala sesuatu yang telah Ibu berikan dan Ibu lakukan untukku. Mendampingi aku selalu.”

Tak seorang pun dapat merenggut kata-kata itu dariku. Tak seorang pun dapat merenggut perasaanku sebagai Ibu pada hari itu.

Aku ingin seseorang bertanya padaku, “Bagaimana kau bisa menjalani hidup, dari hari ke hari, padahal anakmu akan mati?”

Aku pasti akan menjawab, “Kami tak memikirkan kematian. Kami tak punya waktu untuk itu. Kalau kau membiarkan hal itu masuk ke dalam hidupmu, hal itu akan menggerogotimu. Kau harus terus menjalani hidupmu, menikmati setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik yang masih bisa untuk dilewati.”

Akhirnya tibalah saatnya tubuh Ryan tak bisa bertahan lagi. Saat Ryan menjelang ajal, staf rumah sakit pasti mengira kami sudah gila. Disana terbaring seorang anak yang koma, terhubung pada peralatan penyokong hidup, bersama dengan ibunya yang setengah gila menyebut namanya. Berbicara dengannya sementara ia tidur. Dia mungkin tak dapat mendengar apa pun, tapi kami membawakan musik untuknya. Ia mungkin tak dapat melihat apa pun tapi tanpa rasa takut kami naik ke kursi, menggantung bendera dan poster hiasan pada dinding di atas layar, kabel, dan monitor yang berbunyi. Kami tak mau menyerahkan dirinya.

Namun, saat aku berdiri memandangi tubuh Ryan yang kecil dan kurus, aku tahu tak ada lagi yang dapat diperbuat oleh siapa pun. Sebelum ia hanyut ke dalam ketidaksadaran, Ryan berkata padaku, “Kalau menurut Ibu ada kesempatan, Bu. Raihlah kesempatan itu!” Kami meraihnya. Sampai detik terakhir, kami meraihnya sekuat tenaga.

Aku mencondongkan tubuh, mendekatinya dan berbisik. “Tak apa-apa, Nak. Kamu boleh pergi.”

Lalu ia pun meninggal. Mereka menghidupkannya lagi selama beberapa menit. Sejenak kemudian ia akan mati lagi, aku tahu pasti itu. Aku tahu tak ada kesempatan lagi. Tapi, kalau harus menyerah pada pertarungan ini…. saat itu merupakan duka yang tak terkatakan bagiku dan keluargaku.

“Kalau kamu mau, kamu boleh mengatakan bahwa mereka tak usah melakukannya lagi,” seorang sahabat berkata, “Terserah padamu!”

Aku berbicara dengan orangtuaku, dan pada adik Ryan, Nana. Lalu aku berkata pada dokter, “Jangan lagi!”

Dr. Sucipto yang telah merawat Ryan sejak kecil, yang membantunya hidup selama hampir enam tahun belakangan, sementara dokter lain meramalkan ia akan mati dalam enam bulan, berjalan keluar dan mengumumkan bahwa anakku telah meninggal dalam tidunya, tanpa rasa sakit.”

Cahaya itu telah pergi.

Sekarang, aku sudah menjalani kehidupan baruku, tanpa Ryan. Di pinggiran langit, di balik awan, kupikir aku dapat melihat akhir wabah AIDS. Setiap hari, orang yang kehidupannya tadinya tampak akan berakhir, sekarang mekar dengan kesempatan baru. Obatnya akan tiba. Aku merasa aku akan hidup untuk menyaksikan itu. Hadiah mana yang lebih baik yang dapat diterima seseorang selain perasaan menyambut kebahagiaan ini?

Kebun adalah terapi bagiku. Di antara bunga-bunga dan buah-buahan yang cerah, saat cahaya sama sekali baru, dan segalanya masih segar dan basah, serta dedaunan bermanik-manik tetes embun, aku bekerja di rumah tangga alam dan menyegarkan kembali semangatku. Bagiku tampaknya setiap rumput liar yang kucabut adalah sedikit rasa sedih yang mampu kusingkirkan, setetes air mata yang kusiangi sehingga rasa gembira dapat tumbuh lagi.

Pada wajah bunga-bunga yang bermekaran, aku melihat semua teman yang pernah hilang dariku. Aku melihat wajah anakku. Mereka sangat indah dalam pagi baru ini, mekar seperti senyum dan menyinarkan harapan.

Terima kasih Tuhan, untuk hari yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s