AKHIR SUNYI FRANS

AKHIR SUNYI FRANS

Sunyi kurasakan! Aneh, padahal sorak-sorai itu telah menyergap malam yang semestinya senyap menjadi gemuruh. Setengah juta manusia tumpah ruah, tak sabar menunggu , tenor kombinasi bassku. Mereka para fans berat yang rela basah kuyup. Hujan begitu terbakar cemburu kurasa, melihat aku dielu-elukan. Stadion becek, tertutup lautan manusia. Harga tiket selangit seakan no problem. Nama seorang Frans Bharata telah menyihir akal sehat mereka.

“Frans Bharata!!!” teriak mereka. Tapi sunyi kurasakan! Entah sampai kapan…

“Inilah idola kita semua, Frans Bharata! Penyanyi muda Indonesia yang berhasil mengobrak-abrik belantika musik domestik dan mancanegara. Dia adalah talenta yang sangat tidak ternilai harganya. So, sambutlah Frans Bharata!”

Stadion seakan mau runtuh begitu aku melangkah. Pekik kegilaan bersenyawa dengan ribuan lambaian tangan, menyaingi sound system seratus ribu watt yang dipasang panitia. But cool man! Wajah kupasang dingin, style angker, gaya trend masa kini. Jeans sobekan, plus rambut mohawk bercat merah darah, keren bo! Gitar kupetik perlahan, melodi mengalun, irama memukau. Mendadak stadion sepi. Semua menikmati alum magis yang kuciptakan. Selain dinobatkan sebagai vokalis terbaik versi Mtv, aku juga diramal bakal menggeser posisi Ygwie, gitaris kawakan dunia itu. Pasar membuktikan kemunculanku selama empat tahun ini adalah suatu keajaiban. Menjawab kelangkaan musisi lokal berkualitas internasional. Empat album yang kuluncurkan notabene terjual diatas satu juta kopi. Dance with devil, albumku yang kontroversial, menjadi bulan-bulanan media sok agamis, bahkan terjual lebih dari empat juta kopi. Tapi sunyi yang kurasakan… Aku jauh tenggelam…

“Selamat malam Frans mania? Mari berdansa dalam kepekatan. Aku rindu kehangatan.” suaraku serak. Hening. Lantas… “Brag,tak, tak, tak, tung, des!” Alfa, sang drummer menggempur drum overdosis. Aku pun meraung dengan melodi dan tenorku serta sesekali mencabik tuts keyboard, ganas. Penonton histeris. “Frans, I love you! I miss you! Frans, the God of music!” Tenorku semakin melengking dikombinasi vokal khas, menukik menjadi bait-bait bass dan secepat kilat meninggi. Penonton tersihir dan menari bak kesetanan.

Seperti biasa aku mengguyur badanku dengan mangkok berisi… darah kelinci! Manjadi sebuah adat yang diperdebatkan oleh kalangan sok moralis, namun menjadi biasa bagi kalangan Frans mania. Pernah lima orang masuk ICU dan dua orang tewas karena memperebutkan kaos oblong bau keringat yang kulempar saat festival. Aku serasa dewa tapi sunyi yang kurasakan tak pernah berhenti mengetuk-ngetuk jantungku.

“Aku ingin sesuatu!” kugebrak meja Farthur, managerku.

“Apa?” sahutnya.

“Katakan bagaimana aku bisa berbahagia dalam hidup?” jawabku.

Farthur hanya terpana, begitu juga denganku. “Apakah nama besar yang kau miliki, harta berlimpah, jutaan fans berat, dan pujaan para teenager masih belum cukup? Lalu apalagi?” katanya. Aku hanya gugup, tak mampu menjawab pertanyaannya. Farthur memandangku sejenak dan berkata, “Bagaimana kalau kupesankan mobil Ferrari. Kau bisa berandai-andai menjadi seorang Michael Schumacher sambil jalan-jalan keliling Eropa?”

“Bukan ide bagus!” aku menjawab sekenanya.

“Aku tahu! Bagaimana kalau menikmati etnik eksotik Asia atau wanita cantik sekelas Julia Robertnya Pretty Woman.” tiba-tiba dia menyahut.

“Bastard!” geramku. Frans kelihatan jengkel dan setengah membentakku, “Well, butuhmu apa?”

Aku terdiam, tapi tiba-tiba sebuah ide terlintas di otakku. “Planet Mars, ya, Planet Mars. Aku ingin kesana. Aku bahkan rela mengeluarkan dana sekian ratus juta untuk menyulap ruangan ini menjadi miniatur Planet Mars. Bagaimana?” tantangku.

Farthur tercengang, namun tak ada nada protes. Menghadapiku harus sabar. Seribu orang telah bersaing menjadi managerku. Harga seorang Farthur akan berakibat fatal karena bisa-bisa harus go out alias pecat tidak hormat.

Dengan uang, apa yang tidak bisa kuatasi. Wartawan usil yang menuntutku di pengadilan karena tuduhan penganiayaan hanya mampu terbengong ketika hakim yang kusumpal sekian puluh juta menyatakan aku bebas tanpa syarat. Demikian juga pemilik restoran yang sengaja kuobrak-abrik dapurnya hanya karena aku menemukan rasa daging sapi yang sangat kubenci dalam menu makananku. Aku adalah Frans Bharata, sang mozart milenia. Segarang Sepultura dan Metallica, namun seromantis Bon jovi dan Guns Roses. Tapi sunyi itu, tetap saja menghantuiku.

Banyak yang kalang-kabut dengan aksi Error-ku. Pada pementasan terakhir di sebuah kota, tanpa pamit dan tanpa sebab apa pun, di tengah pertunjukan aku pergi. Meninggalkan puluhan, ratusan, atau kalau boleh dikatakan ribuan penonton yang lantas kecelik dan turun ke jalan. Merusak pertokoan –aksi Anarki. Belasan korban jiwa melayang. Apa peduliku?! Sunyi, hanya sunyi yang kurasa. Aku sangat tersiksa!

Lantas kularikan diriku dengan menyusuri jalan, ditemani BMW seri terbaruku. Berpesta morfin, narkotik, dan bir yang sudah bertahun-tahun menjadi teman setia. “Ssrrtt!” kuinjak rem mendadak tatkala sesosok bocah menyeberang tiba-tiba. “Damn you!” makiku sambil membuka kaca jendela mobil. Bocah itu nampak pucat, namun tak terlihat gugup.

“Maaf Bang. Habis tergesa-gesa. Mau mengaji di TPA. Sekali lagi maaf ya, Bang?” Ia berkopiah putih, berbaju koko, dan bersarung merah kotak-kotak. Di tangannya sebuah Qur’an. Wajahnya bersih, bercahaya. Anak itu bersandal jepit, namun seperti sudah bekas reparasi. Sangat sederhana. Aku baru ingat sekarang, mengapa muka anak itu sangat pucat, mungkin karena dia puasa. Puasa Ramadhan barangkali, aku tidak mengerti. Aku mendengus. Namun sungguh, realitas hakiki tiba-tiba terlantun dalam otak penatku.

Bagai orang tolol, kuikuti anak itu. Ia memasuki masjid. Masjid! “Bastard!” melihatnya saja aku sudah pobhi, sudah kikuk. Begitu anak lain berdatangan, aku memilih kabur. Namun, ah… aku merasakan sedikit kehangatan. Ada cahaya, kesucian, kedamaian. Hatiku begitu kotor untuk menerimanya.

“Ahhh! Gila!!!” tiba-tiba aku berteriak histeris. Kucabik senar gitar tak beraturan, membawakan irama alternatif. Aliran Error, yang karena gengsi semata, anak muda tertarik berjingkrak bersama. Berbagai sensasi kupertontonkan. Mulai tatto bergambar tengkorak, anting di bibir, mencukur gundul separuh kepala, sampai mencat gigi warna hitam. Kamuflase semua.

“Bastard!” lagi-lagi aku hanya bisa memaki. Sebuah masa amuk segenap jiwa yang sesungguhnya. Kalau boleh jujur, aku sedikit terobati dengan fragmen bocah berkopiah putih yang menenteng Qur’an dengan sikap tawadhu’ itu. Haruskah aku bertobat? Ya, kesalahanku… dosa-dosaku telah melambung jauh. Tidak!!! Aku terlalu kotor… terlalu kotor. Tapi sunyi itu mencekikku. Membuatku hampir mati dalam cengkeramannya.

Aku tersenyum. Lama kutatap wajah kurusku pada cermin almari kamar yang sebagian telah pecah gara-gara kuremukkan. Lantas, tanpa pikir panjang kuambil sesuatu dari laci. Dan kutemukan…! Sebuah pistol buatan Eropa. Kulihat isinya, masih penuh. Kutempelkan moncong pistol itu ke pelipisku, mengakhiri kesunyian yang semakin bertalu-talu menghantam ulu hatiku. Ini yang akan membebaskanku, atau setidaknya melepaskanku dari belenggu resah. Kutarik pelatuk, dan… “Dor! Dor! Dor!” Kurasakan darah memercik, lalu sunyi lenyap. Berakhir. Gelap!!!

Esoknya, headline sebuah harian besar nasional menulis, ” Frans Bharata, gitaris dan vokalis Indonesia dasawarsa ini, ditemukan tewas di kamarnya. Tiga butir timah panas bersarang di otaknya. Diduga ia bunuh diri. Kematian itu menimbulkan reaksi dari jutaan penggemarnya. Mereka turun ke jalan, menyembelih kelinci, dan mengguyurkan darahnya ke seluruh tubbuh. Dua orang remaja di Jakarta bahkan menembak kepalanya dengan pistol gelap yang mereka miliki. Dalam surat yang mereka tinggalkan tertulis, “Kususul kau, Frans. Kami sangat mengidolakanmu. Tak ada guna kami hidup tanpa mendengar suara dan cabikan gitarmu.”

Sementara media Islam menulis, “Kasus bunuh diri dua orang remaja di Jakarta, membuat kita merasa prihatin. Sebegitu besarkah kekuatan setan mencengkeram remaja kita sehingga melupakan, bahwa satu-satunya yang harus diidolakan adalah Rasulullah, pribadi yang lengkap dengan segala kesempurnaannya. Menjadi sebuah PR bagi kita semua, dimanapun berada. Bagaimana cara memecahkan kasus sadis ini sehingga generasi muda Islam terselamatkan dari kehancuran.

THE END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s